ESA temukan bukti adanya jaringan sungai kuno di Mars

ESA temukan bukti adanya jaringan sungai kuno di Mars

ESA temukan bukti adanya jaringan sungai kuno di Mars

SEMUA BERITA – Mars saat ini adalah planet yang dingin dan kering, tetapi mungkin tidak selalu demikian. Semakin banyak bukti yang menunjukkan pernah ada jaringan sungai di Planet Merah itu.

Gambar yang diambil Mars Express, wahana antariksa milik Badan Antariksa Eropa (ESA), dan dipublikasikan pekan lalu, menunjukkan apa yang diyakini para ilmuwan merupakan sisa-sisa sungai kuno yang pernah berkelok-kelok melalui permukaan Planet Merah yang kini telah kering.

Misi Mariner 9 mengungkapkan petunjuk erosi air di dasar sungai dan ngarai, serta bukti dari garis depan cuaca dan kabut di Mars pada tahun 1971.

Kemudian misi dari pengorbit Viking, yang pertama kali diluncurkan pada tahun 1975, mengungkapkan lebih detail tentang bagaimana air pernah mengalir di permukaan dan lembah berukir.

Sepanjang beberapa dekade terakhir, sejumlah peneliti telah menyelidiki kemungkinan adanya air cair di planet tersebut. Bukti pertama adanya air di Mars kemudian ditemukan pada tahun 2000.

Dikatakan bahwa parit-parit yang terlihat di permukaan planet ini telah terbentuk oleh air yang mengalir. Para ilmuwan menyebut puing-puing dan endapan lumpur yang tertinggal sebagai bukti untuk air mengalir yang ada di beberapa titik dalam sejarah Planet Merah itu.

Hasil pengamatan ilmuwan Badan Antariksa Eropa (ESA) pada 2018 menunjukkan bahwa air mungkin masih terdapat di beberapa lokasi terpencil di Mars. Seperti di danau sub-glasial selebar 20 kilometer yang terletak 1,6 kilometer di bawah permukaan, dekat kutub selatan Mars.

Studi terbaru kini semakin menunjukkan bahwa planet ini pernah memiliki atmosfer yang lebih tebal dan lebih padat. Kondisi tersebut memfasilitasi dan mendukung aliran air di permukaan.

Walau air sudah tak tampak lagi, para peneliti melihat tanda-tanda yang jelas dari aktivitas air masa lalu yang menelusuri permukaan Mars.

Gambar-gambar baru dari wahana Badan Antariksa Eropa (ESA) Mars Express Orbiter menunjukkan satu wilayah dengan ciri seperti itu. Sistem parit dan lembah bercabang yang telah kering ditemukan di dataran tinggi selatan Mars, terletak di sebelah timur kawah besar yang dikenal sebagai Huygens dan utara Hellas, cekungan benturan terbesar di planet ini.

Dataran tinggi selatan adalah salah satu daerah tertua dan memiliki paling banyak kawah di permukaan Mars.

Gambar-gambar dari ESA tersebut menunjukkan bahwa air pernah mengalir bebas melintasi area ini, mengalir menurun dari utara ke selatan dan mengukir lembah hingga kedalaman antara 200 m dan 200 km. Lembah-lembah ini masih dapat dilihat sampai hari ini, meskipun setelah empat miliar tahun terkena erosi dan dampak tubrukan meteor.

Sistem sungai tampak seperti cabang pohon, sangat mirip dengan sistem sungai yang ada di Bumi. Sebagai contoh, sungai Yarlung Tsangpo juga berliku-liku dari Tibet barat ke Tiongkok, India, dan Bangladesh.

Dalam siaran persnya, ESA mengatakan bahwa sistem sungai bercabang Mars mungkin disebabkan oleh air permukaan dari aliran sungai yang kuat. Hujan deras juga mungkin berkontribusi. Aliran akan “memotong medan yang ada di Mars, menempa jalur baru, dan mengukir lanskap baru.”

Meskipun para peneliti tidak yakin dari mana asal air sungai kuno, apakah itu gletser atau presipitasi atmosfer, yang diungkapkan oleh dasar sungai adalah bahwa planet tersebut pada suatu waktu jauh lebih hangat dan lebih basah daripada sekarang.

“Sekarang, diperkirakan perubahan iklim terjadi di Mars sekitar 3,7 hingga 3,8 miliar tahun yang lalu, ketika kondisi lingkungan berubah dari lingkungan yang agak netral, berpotensi menopang kehidupan, dan lembab secara sporadis menjadi lingkungan yang jauh lebih asam, kering, dan dingin yang bermusuhan dengan kehidupan,” kata Ralf Jaumann, peneliti di DLR Institute of Planetary Research.

“Perubahan iklim ini mengubah planet tetangga kita dari kondisi yang memiliki sungai dan danau, dengan kata lain, ‘penuh harapan’ sehubungan dengan kemunculan dan perkembangan kehidupan yang mungkin terjadi, menjadi kondisi yang kering dan asin,” tambah Jaumann, yang juga peneliti utama High Resolution Strereo Camera Mars Express

Tahun depan ESA berencana untuk mendaratkan wahana yang disebut Rosalind di Mars sebagai bagian dari misi ExoMars mereka. Tim berharap untuk menemukan lebih banyak data tentang atmosfer di Mars, serta perjalanan ke lokasi tertentu untuk menelusuri bagian bawah permukaan dalam mencari tanda-tanda kehidupan.