Kumpulan Review Film Captain Marvel, Banyak yang Bilang Biasa Aja

Kumpulan Review Film Captain Marvel, Banyak yang Bilang Biasa Aja

Kumpulan Review Film Captain Marvel, Banyak yang Bilang Biasa Aja

Salah satu film superhero yang ditunggu para penggemar, terutama penggemar komik Marvel, akhirnya telah tayang pada 6 Maret lalu di seluruh bioskop Indonesia.

Film Captain Marvel ini bercerita tentang Carol Danverse (Brie Larson) yang terus menerus mencari tau siapa dirinya sebenarnya serta berusaha untuk mengakhiri konflik antara Skrulls dan Kree.

Setelah menontonnya, kebanyakan reviewer mengatakan bahwa film arahan Anna Boden dan Ryan Fleck ini biasa-biasa saja, bahkan bisa dibilang kurang untuk ukuran film blockbuster superhero.

Berikut simak langsung sejumlah review dari media-media di luar negeri:

“Secara keseluruhan baik-baik saja, tapi nggak terlalu menarik. Dan seharusnya bisa jauh lebih baik. Sebab film ini diisi oleh para pemain bintang, bakat penyutradaraan yang keren, anggaran, dan kesungguhan yang baik dari Marvel”  Lindsey BahrAssociated Press.

“Aku nggak bisa bilang ‘Wow!’ Sebaliknya, aku mendengar suara pahlawan super dalam batinku, Peggy Lee, berbisik di telingaku: Apakah cuma itu aja? Supervillain yang paling kejam dari semua ini sebenarnya adalah Kebosanan.” — Stephanie Zacharek, Time.

“Masalahnya adalah segala sesuatu terasa sangat kurang. Kurang diperhitungkan sehingga hasilnya jadi nggak optimal. Bagian awal ‘Captain Marvel’ cukup pas, tapi selanjutnya, ia nggak bisa menemukan keserasian antara dirinya dan alter ego-nya.” — Ann Hornaday, the Washington Post.

“Pasti menyenangkan jika salah satu dari penulis memberi tahu Larson tentang ‘comedy shift’. Pemenang Oscar yang berbakat itu nampak nggak nyaman pada momen-momen yang lebih ringan. Padahal ia pernah melakukannya di film ’21 Jump Street’ dan Trainwreck’. Dia bisa melakukan komedi tanpa harus menjadi versi wanita dari Robert Downey Jr. ”- Mara Reinstein, Us Weekly.

“Aku menginginkan cerita yang lebih jelas dan lebih sentral untuk kemunculan Captain Marvel. Dan dalam film-film berikutnya -jika dia nggak ‘tersesat’ dalam kelompok Avengers- harus ada lebih banyak kecerdasan dan gaya Larson sendiri dan, tentu saja , penguasaan bela diri yang masuk akal.” — Peter Bradshaw, The Guardian.

“Kau akan paham tentang bagaimana plotnya yang terlalu berbelit-belit di bagian tengah ke belakang. Alurnya terlalu santai dan gaya retronya terlalu datar dalam kemeriahan film-film MCU sejauh ini. Tetapi penggunaan waktu untuk menggarisbawahi bagaimana kehidupan dijalani, mungkin itu yang membuat Captain Marvel melekat di ingatan kita.” — Peter Travers, Rolling Stone.

“Yang kurang adalah humor, yang mungkin disisipkan pada beberapa aksi dan kekerasan, serta keinginan yang mendalam atau motivasi untuk membasmi kejahatan dan memperbaiki dunia ini. Penampilannya baik-baik saja, kalau nggak bisa dibilang nggak mengasyikkan atau menginspirasi.” — Todd McCarthy, The Hollywood Reporter.