Terakhir Kali Liverpool Juara Liga Inggris

Terakhir Kali Liverpool Juara Liga Inggris

Terakhir Kali Liverpool Juara Liga Inggris

Mungkin tidak sedikit yang tidak sadar, atau bahkan tidak mengetahui, bila 28 April ialah hari yang bersejarah untuk Liverpool. Tepatnya pada 28 April 1990, Liverpool sukses meyakinkan gelar Liga Inggris ke-18, sekaligus menjadi gelar Liga Inggris terakhir mereka sampai sekarang.

Ketika tersebut Liverpool berlomba ketat dengan Aston Villa di puncak klasemen. Liverpool memimpin klasemen dengan selisih dua poin dan masih menyisakan satu pertandingan lebih tidak sedikit dibanding Aston Villa. Liverpool bakal menjamu QPR sedangkan Aston Villa menjamu Norwich City. Jika Liverpool menang dan Aston Villa kehilangan poin pada pekan itu, maka Liverpool yang ketika itu dirawat Kenny Dalglish bakal meyakinkan gelar juara liga 1989/90.

Liverpool sempat terbelakang lebih dulu di menit ke-14 melewati sundulan dari Roy Wegerle. Liverpool baru dapat membalas ketinggalan pada menit ke-40 melewati penyerang asal Wales tumpuan mereka, Ian Rush. Memasuki babak kedua, tendangan penalti John Barnes pada menit ke-65 menciptakan Liverpool berbalik unggul.

Tidak lama berselang, terdengar kabar bahwa di lokasi lain Aston Villa tengah imbang dengan Norwich 3-3. Artinya, andai skor kedua pertandingan bertahan sampai akhir pertandingan maka dapat dijamin Liverpool menjadi juara Liga Inggris musim itu.

Pertandingan Liverpool selesai lebih dulu, skor tetap bertahan 2-1 dengan kemenangan Liverpool. Fans masih menantikan kabar hasil akhir pertandingan Aston Villa yang ketika tersebut penyebarannya masih memakai siaran radio. Kabar yang ditunggu pun kesudahannya muncul. Skor Villa vs Norwich juga tak berubah, Liverpool juara.

Gelar ini bukan sekadar menjadi gelar ke-18 untuk Liverpool. Gelar ini pun semakin menegaskan kekuasaan Liverpool di Liga Inggris yang sudah dilangsungkan selama dua dasawarsa sejak era 70-an. Dalam dua dasawarsa tersebut, Liverpool menjelma sebagai klub yang merajai Liga Inggris dengan 11 kali meraih gelar juara.

Jika kita hendak menceritakan cerita kesuksesan Liverpool di era 70-an dan 80-an, terdapat baiknya kita unik sedikit lebih ke belakang mengarah ke musim 1959/60. Ketika tersebut kondisi Liverpool sedang terpuruk, dan sudah menginjak musim kelima mereka di divisi dua sesudah terdegradasi di musim 1953/54.

Pada musim 1959/60, Phil Taylor adalahmanajer yang menangani Liverpool pada mula musim. Musim tersebut ialah musim ketiganya menangani Liverpool sesudah menggantikan Don Welsh pada tahun 1956. Saat itu, target utama Taylor melulu satu: membalikkan Liverpool promosi ke Liga Inggris Divisi Satu. Namun Taylor gagal mengisi target capaian yang ia tetapkan sendiri tersebut.

Setelah mengawali musim yang tidak stabil di tahun 1959, Taylor mengaku pengunduran dirinya pada tanggal 17 November 1959. Namun Taylor tidak meninggalkan Liverpool tanpa peninggalan yang berarti. Ia meninggalkan kesebelasan staf kepelatihan yang terdiri dari 3 nama yang berjasa besar untuk Liverpool di lantas hari. Mereka ialah Reuben Bennett, Joe Fagan, dan Bob Paisley.

Liverpool belum menunjuk manajer pengganti sesudah Taylor mengaku pengunduran dirinya. Kondisi klub yang semakin tidak stabil menciptakan Liverpool merasakan kekalahan yang paling memalukan di tanggal 1 Desember 1959. Pada pertandingan Piala FA, Liverpool kalah dari klub non-league, Worchester City, dengan skor 2-1.

Tidak berselang lama, klub menyimpulkan untuk menunjuk manajer yang bakal menangani Liverpool selanjutnya. Keputusan penunjukan manajer baru ini barangkali akan menjadi pemungutan keputusan terbaik dalam sejarah klub Liverpool sebab menjadi mula kebangkitan mereka. Manajer yang ditunjuk saat itu ialah orang yang masih sering disinggung namanya oleh fans Liverpool ketika ini: Bill Shankly.

Shankly langsung melakukan tidak sedikit perubahan ketika mulai menangani Liverpool. Ia meminta klub menerbitkan 3.000 paun guna memperbaiki sejumlah titik di stadion Anfield. Ia pun mengubah tidak sedikit hal dari tempat pelajaran pemain Liverpool, Melwood, yang pada saat tersebut ia katakan sebagai dalam situasi sangat kacau.

Tidak melulu memperbaiki infrastruktur, Shankly pun segera menjalin hubungan dengan sejumlah pihak. Ia menjalin hubungan yang baik dengan semua suporter Liverpool dan mengawali kerja sama dengan staf kepelatihan peninggalan Phil Taylor. Bob Paisley ialah faktor kunci dari kuartet kepelatihan Liverpool bareng Bill Shankly. Dikatakan bahwa Shankly ialah seorang motivator sedangkan Paisley ialah master taktik di belakangnya.

Keempat orang ini tidak jarang berkumpul di dalam suatu ruangan penyimpanan sepatu sambil bertukar pikiran mengenai taktik Liverpool. Kegiatan ini lantas menjadi kelaziman dan ruangan penyimpanan sepatu itu diberi nama boot room.

Shankly pun melakukan satu evolusi besar dari skuat Liverpool. Ia menanam 24 pemain Liverpool ke dalam susunan pemain yang dijual.

“Setelah satu pertandingan, aku langsung memahami bahwa pemain yang terdapat secara keseluruhan paling tidak baik. Aku mesti mengerjakan perbaikan melewati tengah, seorang kiper dan bek yang dapat menghentikan bola, dan penyerang tengah yang dapat mencetak tidak sedikit gol,” kata Shankly sesudah melihat situasi para pemainnya.

Untuk dapat mendapatkan pemain pengganti, Shankly pasti membutuhkan sokongan dari pihak manajemen Liverpool supaya mau menerbitkan uang untuk menyebabkan pemain. Tentu saja ia menemukan hambatan dalam urusan ini. Beruntung Shankly mempunyai seseorang yang memiliki visi yang sama dengannya di dalam struktur manajerial Liverpool. Ia ialah Eric Sawyer yang selalu menolong Shankly dalam mewujudkan pemikirannya di Liverpool.

Dalam suatu pertemuan dengan pihak manajemen pada tahun 1961, Shankly mengemukakan permohonan guna merekrut dua pemain asal Skotlandia, Ron Yeats dan Ian St John, yang kemudian ditampik pihak manajemen. Namun Sawyer-lah yang kemudian sukses membujuk manajemen supaya keduanya didatangkan.

Setelah tersebut satu per satu pemain muncul memperbaiki skuat Liverpool di bawah asuhan Shankly. Tommy Lawrence (kiper), Gordon Milne, dan sejumlah pemain lainnya laksana Jimmy Melia, Ronnie Moran, Alan A’Court, Gerry Byrne, dan Roger Hunt ialah pemain anyar yang menyerahkan pengaruh besar..

Dengan skuat baru tersebut, Shankly akhirnya sukses membawa Liverpool promosi ke Divisi Satu Liga Inggris pada musim 1961/62 dan mengawali masa kejayaan Liverpool. Musim kesatu di Divisi Satu, Shankly membawa Liverpool ke posisi delapan. Musim berikutnya, Shankly langsung memperlihatkan hasil kerjanya dengan menyerahkan gelar juara Divisi Satu Liga Inggris 1963/64.

Namun ambisi terbesar Shankly sebetulnya bukan menjadi juara Liga Inggris. Piala FA ialah trofi yang paling ia inginkan muncul ke Liverpool sebab belum sekalipun Liverpool meraih Piala FA pada ketika itu.

Satu tahun kemudian, Shankly benar-benar mewujudkan ambisinya. Ia menyerahkan gelar Piala FA kesatu untuk Liverpool di musim 1964/65. Liverpool sukses mengalahkan Leeds United di final dengan skor 2-1. Salah satu rekrutan kesatu Shankly, Ian St John, mencetak gol di babak perpanjangan waktu. Kemenangan ini disebutkan Shankly dalam kitab autobiografinya sebagai pencapaian terbaik dalam kariernya.

Setelah itu, Shankly menangani Liverpool 15 musim dan mempersembahkan 3 gelar Liga Inggris, 2 Piala FA dan satu Piala Champions. Ia menyimpulkan untuk pensiun setelah menyelesaikan musim 1973/74 ketika berusia 60 tahun.

Posisi manajer Liverpool lantas dilanjutkan oleh Bob Paisley yang semakin menciptakan Liverpool merajai persaingan Liga Inggris. Paisley mempersembahkan 6 gelar juara Liga Inggris, 3 gelar juara Liga Champions, dan 3 gelar Piala Liga. Dua manajer selanjutnya, Joe Fagan dan Kenny Dalglish, masih mempertahankan kekuasaan Liverpool di Liga Inggris sampai musim 1990/91 (runner-up).

Dalam dua dasawarsa Liverpool merajai Liga Inggris berkat peninggalan Bill Shankly yang membina Liverpool dari nol. Sejak musim 1972/73 sampai 1990/91, Liverpool 11 kali juara Liga Inggris, 7 kali runner-up, dan melulu 1 kali sedang di posisi kelima klasemen.

Jan Molby yang sempat membela Liverpool semenjak 1984 hingga 1996 mengatakan, “Sepakbola memang tidak dapat ditebak, satu-satunya urusan yang bisa Anda prediksi ialah Liverpool akan tidak jarang kali ada masing-masing kali penghargaan bakal diserahkan.” Kata-kata pemain yang ikut membawa tim nasional Denmark juara Piala Eropa 1992 ini memang terdengar paling sombong. Namun pada saat tersebut sulit untuk ditentang karena daftar luar biasa yang dipunyai Liverpool dalam 20 tahun terakhir.

Namun kini ucapan-ucapan jemawa Jan Molby sama sekali tidak relevan. Jangankan mendominasi Liga Inggris, Liverpool bahkan belum sukses menambah satupun gelar juara Liga Inggris sampai saat ini. Praktis Liverpool pun belum pernah sekalipun meraih gelar juara ketika Liga Inggris sudah berganti nama menjadi Premier League.

Performa Liverpool di era 90-an dan saat menginjak tahun 2000-an paling tidak stabil. Satu-satunya gelar yang bisa dibanggakan ialah gelar Liga Champions yang mereka raih secara mengharukan pada tahun 2005. Namun, gelar Eropa ini kelihatannya belum dapat mengobati kecintaan fans Liverpool bakal gelar juara Liga Inggris.

Beberapa kali, Liverpool melulu sekadar ‘hampir’ meraih gelar juara Liga Primer Inggris pada tahun 2001/02, 2008/09, dan 2013/14. Lebih buruk lagi, rival mereka, Manchester United, sukses mengambil alih kekuasaan Liga Inggris. United yang saat tahun 1990 baru mempunyai koleksi 7 gelar, kini sukses menyalip torehan gelar kepunyaan Liverpool dengan 20 gelar Liga Inggris sampai saat ini.

Meski begitu Liverpool masih menjadi di antara klub besar Inggris, bahkan barangkali Eropa. Fansnya tersebar di semua penjuru dunia dan menjadi di antara klub dengan jumlah fans sangat banyak. Tidak tidak banyak pula fans Liverpool yang bermunculan di akhir tahun 80-an atau setelahnya. Artinya mereka belum pernah menikmati atau masih terlampau kecil untuk menilik saat-saat klub kesayangannya, Liverpool FC, meraih gelar juara Liga Inggris.

Walau begitu, tidak peduli andai harapan tersebut harus diwariskan ke penyokong Liverpool generasi selanjutnya, mimpi untuk menyaksikan Liverpool meraih gelar Liga Inggris ke-19 sekaligus menjadi gelar kesatu Liga Primer Inggris bakal terus menyala sampai urusan ini benar-benar dapat terwujud.

ROKET4D | AGEN TOGEL ONLINE TERPERCAYA | AGEN LIVE CASINO | TARUHAN BOLA ONLINE | CASINO ONLINE | SABUNG AYAM | SLOT GAME ONLINE | TANGKASNET | AGEN BOLA TERPERCAYA